who am I?

Danang Adi Wiratama adalah arsitek yang ada di balik layar ARSITEKETEK.

my brother

duta.

me and my gun

smile to my gun and I'll shot you

Nikon D3100, Beauty in Intelligent

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

danangphotography_

"foto berwarna memanjakan mata, foto hitam-putih memanjakan jiwa"

Sabtu, 10 Maret 2012

Like It, then Make It

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgo1J8Gkv2Ej-W7W9-l6XQoe5NOeQEPSy9uJoQKELzFZJkocsu2hhCeVFXQT79Rjx6NkqrTXWtG9UeZbI0cmgE1BNJ7mlFW_QnNnZu64X07quoWPvcbXPJW77h7ne1k3OBbwYGSkvpUgE2f/s1600/i+like+it.jpg


Pernahkah anda mengalami hal sejenis ini :
Anda pernah diperintah Ibu Anda untuk mengambilkan pisau di dapur padahal Anda sedang asyik bermain dengan video game Anda. Lalu dengan terpaksa dan menggrutu, Anda pun menuruti perintah Ibu Anda. Setelah sampai di dapur, dengan hati yang panas, Anda mulai mencari pisau ke sana ke mari, ke arah sana dan sini. Tapi hasilnya, Anda tidak bisa menemukan pisau itu. Anda pun menggerutu pada Ibu Anda. Lalu kemudian Ibu Anda mendatangi Anda, dan dengan tersenyum berkata : “Pisaunya ada di depan kamu persis, kok kamu bisa gak tau?”

Pembaca sekalian, mungkin kita tidak sadar betapa seringnya kita berada dalam situasi seperti itu. Menggelikan memang, tapi itulah diri kita. Betapa sulitnya seorang pelajar SMA menyelesaikan soal Matematika padahal jalan keluarnya sangat sederhana. Betapa ribetnya jalan pikir seorang pebisnis memikirkan anggaran padahal peluang ada di depan mata. Dan betapa kita mendadak “buta” terhadap setiap jalan keluar yang begitu lebar terbuka.

Apa yang menyebabkan si anak tidak bisa menemukan pisau ibunya di dapur, bisa menjadi perenungan kita. Si anak memang sejak awal tidak suka dengan pekerjaan yang ditawarkan ibunya. Tapi pada akhirnya karena “rasa tidak enak”, sang anak pun terpaksa melakukannya. Akibat mood yang setengah-setengah (atau bahkan tidak ada), sang anak tampak sangat kesulitan mencari jalan keluar dari tugasnya.

Kita juga demikian. Sering kita melakukan berbagai tugas dan pekerjaan dengan penuh keterpaksaan. Tidak ada “will” dari dalam. Yang ada hanyalah “will” dari orang tua, teman-teman, lingkungan,  perusahaan, atau bahkan sistem yang membelenggu. Akibatnya pekerjaan-pekerjaan kita terasa sangat berat dan berjalan lambat. Kesulitan-kesulitan semakin menumpuk dan segala pintu keluar menjadi buntu. Betapa malunya kita jika kemudian ada orang lain datang dan memberitahukan bahwa alangkah mudahnya solusi yang (memang) sejak awal sudah tersedia gamblang di depan mata.

Disadari atau tidak, kita sering mengabaikan makna dari sebuah kata “awal”, sebuah kata yang ternyata justru sangat menentukan masa depan. Yang penting pekerjaan selesai. Itu saja. Namun kenyataannya, apakah pekerjaan itu benar-benar selesai secara maksimal?

Di sini saya menyadari betapa pentingnya menentukan sikap di awal setiap pekerjaan. Bagaimana sebisa mungkin kita menghilangkan kata “keterpaksaan” dan menggantinya dengan “kesukaan”. Menggali “will” yang berasal dari dalam diri kita sendiri, dan kemudian beraksi.

Anda tentu bisa membayangkan bagaimana jika dalam ilustrasi saya tadi, sang ibu bukan memerintahkan anaknya untuk mengambilkan pisau di dapur, tapi justru menyuruh anaknya untuk bermain video game sepuasnya. Tentu sang anak akan sangat senang dan tambah bersemangat dalam menyelesaikan setiap permainan yang ada di dalam video gamenya.

Demikian juga kita, jika kita menyikapi setiap dari pekerjaan kita secara semangat dan antusias, hasilnya kita akan benar-benar dapat menyelesaikannya secara tuntas. Jalan keluar akan seolah mengantre pada kita dan menunggu untuk diaplikasikan. Di dalam kondisi yang serba menjepit pun, kreatifitas kita akan bekerja secara optimal mencari solusi-solusi unik yang dapat kita gunakan. Inilah yang menjadi kunci bagi mereka yang sering kita lihat sangat produktif, tak pernah kekurangan ide, dan selalu dapat menemukan solusi dari masalah-masalahnya.

Karena orang yang berusaha “menyukai terlebih dahulu” pekerjaannya, akan mudah menemukan jalan keluar sekalipun dalam situasi yang serba menekan. Sementara yang “terpaksa” akan sukar menemukannya walaupun jalan keluar ada di depan mata.


Sabtu, 03 Maret 2012

Jadi Anak Kecil

http://fc05.deviantart.net/fs70/i/2010/072/8/d/little_superman_by_davidmzuber.jpg

Saya masih ingat akan masa kecil saya. Sebuah masa di mana segala sesuatu adalah mungkin terjadi. Saya ingat waktu saya mengikatkan selimut di leher, saya menjadi seorang Superman. Waktu saya menaiki sapu yang saya pinjam dari ibu saya, saya menjadi seorang penyihir. Dan juga, saya ingat ketika saya memanjat pohon tanpa berpikir bahwa saya mungkin bisa terjatuh. Saya hanya mempunyai sebuah ide, lalu melakukanya. Itu saja. Saya berpikir bahwa waktu itu diri saya adalah seorang anak yang kreatif dan penuh percaya diri.

Ketika saya beranjak dewasa, keadaannya terasa sedikit berbeda. Sewaktu saya akan menempuh suatu ujian, timbul perasaan bahwa ujian yang saya hadapi akan begitu sulit dan saya tidak akan mampu mengerjakannya. Sewaktu saya memperoleh peluang yang menjanjikan untuk berprestasi, orang-orang mulai berkata tentang resiko, kemudian itu membuat saya merasa mereka benar dan saya harus menunda peluang ini. Sewaktu saya memikirkan tentang masa depan, sering kali saya berpikir itu hanyalah mimpi dan saya tidak akan pernah mencapainya. Saya percaya saya masih seorang yang kreatif, tapi dengan sedikit keraguan.

Sering kita melihat orang lain yang mempunyai ide yang sama dengan kita, menjadi seorang yang berhasil. Kemudian kita mulai bertanya bagaimana mungkin dia bisa melakukannya? Mengapa harus dia? Ada rasa sesal mengapa kita tidak mengambil peluang itu dulu. Apa yang membuat mereka berbeda dengan kita adalah karena aksi mereka membawa mimpi mereka menjadi kenyataan.

Kekhawatiran membuat kita tak berdaya. Sekali kita maju satu langkah, kekhawatiran siap datang dan membawa kita mundur dua langkah. Kekhawatiran inilah juga yang membuat kita merasa tertekan ketika masalah datang. Ketika dihadapkan dengan suatu peluang, rasa khawatir siap menghujani dengan berbagai pikiran kemungkinan terburuk tentang apa yang akan terjadi di depan sana. Akibatnya, pikiran kita pun menjadi tidak jernih dan ini seolah menutup segala “jalan” solusi yang bisa kita lakukan. Kekhawatiran akan membuat kita seperti memakai kacamata kuda dimana kita hanya akan mampu melihat satu pintu yang tertutup sementara kita tidak mampu melihat ke pintu-pintu lain yang terbuka lebar.

Kekhawatiran adalah seperti orang yang hendak mencapai suatu tempat melalui sebuah terowongan. Sebelum memasukinya, orang itu melihat ke arah ujung terowongan dan mengetahui bahwa tempat di ujung terowongan itu lah yang sedang dia tuju. Namun ketika baru beberapa langkah, perhatian orang itu bukan lagi ke tempat di ujung terowongan, tetapi terowongan itu sendiri. Dia pun berhenti melangkah dan melihat betapa gelap dan panjangnya terowongan itu.

Sering kali hidup kita juga seperti itu. Ketika masalah datang, kita akan merasa bisa mengatasinya. Namun ketika kita mulai mengambil aksi, timbullah keraguan. Pikiran-pikiran kita tak lagi terarah pada jalan keluar, tetapi justru kepada masalah itu sendiri. Bukannya selesai, kita malah semakin berputar-putar dan terpenjara dalam masalah kita.

Satu cara

Jika begini persoalannya, hanya ada satu jalan keluar. Itu adalah kembali pada “Sang Penguji Manusia”. Mungkin bagi orang zaman sekarang anggapan ini sudah dianggap sangat klasik, karena mereka pun juga selalu mendengar hal ini melalui rekannya yang juga mengalami permasalahan hidup sama dengannya. Namun percayalah, jika hal “klasik” ini bila benar-benar dihayati dan tidak dipandang sebatas slogan, ini akan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan kita.

Suatu saat saya pernah mengalami depresi yang begitu hebat. Tugas-tugas yang menumpuk, serbuan deadline yang deras menghujani, dan “gesekan” dengan beberapa rekan mulai membuat badan saya kalah dan jatuh sakit. Beberapa teman menyarankan agar saya beristirahat dan melakukan wisata singkat untuk meringankan pikiran saya yang berat. Namun sialnya, tak ada satu pun dari cara itu yang benar-benar berhasil memulihkan kondisi pikiran saya.

Di dalam pikiran khawatir saya, akhirnya saya mencoba mendekat pada-Nya dengan perenungan dan doa-doa singkat. Dan memang ajaib, pikiran-pikiran saya mulai mengalir secara lambat, lembut, dan firman-firmanNya seolah mendinginkan isi kepala saya yang sebelumya bergerak cepat, mendidih dan hendak tumpah. Walaupun masalah saya sama sekali tidak berkurang, namun setidaknya beban pikiran saya mulai berkurang dan menjadi ringan. Ada perasaan lega dan sejuk di dalam dada. Satu-persatu pekerjaan terselesaikan secara cepat dan tepat, tanpa itu menjadi baban yang merantai diri saya.

Dari sejak itulah, saya tidak lagi memandang ringan “slogan” “kembali pada-Nya”, karena memang saya merasakan sendiri betapa kuasa Tuhan jauh lebih besar daripada problematika yang sebelumya kita anggap paling besar itu. Ingatlah kembali ketika kita masih anak kecil. Ingatlah kembali betapa mudahnya kita menjadi seorang Superman dan penyihir sapu terbang. Ingatlah kembali bagaimana ringannya kita memanjat sebuah pohon tanpa ada rasa takut sedikitpun. Ingatlah kembali bagaimana segala sesuatu adalah mungkin terjadi. Dan ingatlah selalu bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang senantiasa hidup berserah kepada-Nya. Serahkan kuatirmu, dapatkan kelegaanmu, dan raih mimpimu! (ARSTKTK)




Minggu, 08 Januari 2012

Misteri di Balik SNMPTN

Komputerisasi SNMPTN (Proses Penghitungan Nilai)

Proses Komputersasi SNMPTN
Seorang pengamat masalah Ujian Masuk Perguruan Tinggi ( sekarang bernama SNMPTN atau Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri setelah sebelumnya bernama SPMB atau Seleksi Peneriamaan Mahasiswa Baru) Ir. DM Djohan Yoga menulis tentang Proses Komputerisasi UMPTN di Surat Kabar Pikiran Rakyat beberapa tahun lalu.

PROSES KOMPUTERISASI
Selama ini, proses seleksi telah menjadi suatu misteri sehingga banyak orang yang beranggapan bahwa lulus tidaknya seseorang dalam SNMPTN ditentukan oleh faktor nasib. Peserta hanya membayar, mendaftar, mengikuti ujian dan akhirnya menerima hasil. Sebagian besar peserta tidak mengetahui proses apa yang akan dilakukan panitia SNMPTN terhadap Formulir Pendaftaran dan Lembar Jawaban yang telah mereka isi hingga pengumuman hasil SNMPTN. Hal ini diperparah oleh keterbatasan informasi mengenai SNMPTN sehingga banyak peserta yang tidak lulus sering menjadikan proses ini sebagai kambing hitam. Proses komputerisasi SNMPTN dibagi menjadi dua tahap, yaitu Proses Validasi Data Rayon di koordinator setiap rayon dan Proses Seleksi Nasional di kantor SNMPTN Pusat Salemba Jakarta.

Validasi Data Rayon
Seusai ujian, seluruh lembar jawaban dan formulir pendaftaran langsung dikirimkan ke Pusat Ilmu Komputer (Pusilkom) UI yang langsung melakukan proses scanning (Pemindaian), sementara untuk rayon B dan C dilakukan di UGM Yogyakarta dan ITS Surabaya. Selama proses ini berlangsung juga dilakukan proses validasi/pencocokan secara manual untuk memeriksa apakah data yang masuk komputer sama dengan data yang diisi oleh peserta.
Bila terjadi kesalahan maka akan diteliti apakah kesalahan disebabkan oleh peserta atau scanner (alat pemindai). Proses scanning akan diulang jika penyebabnya adalah scanner sehingga peserta tidak dirugikan. Tapi sebaliknya jika kesalahan berasal dari peserta ujian sendiri maka data akan dibiarkan apa adanya. Selain itu juga akan dilakukan Analisa Soal untuk mengetahui apakah ada soal yang salah atau soal yang terlalu mudah atau terlalu sulit.
Setelah soal-soal itu dianulir, maka akan dilakukan penilaian yaitu Benar +4, Salah -1 dan kosong = 0. Nilai yang diperoleh disebut Nilai Mentah ( raw score ). Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri yang berasal dari rayon A, B dan C yang telah dilengkapi akan digabungkan menjadi satu di Pusat Ilmu Komputer UI, dan selanjutnya akan dihitung statistik dari masing-masing set yaitu Rataan ® dan Simpangan Bakunya (SB). Selanjutnya Nilai Mentah (NM) dari masing-masing peserta dibakukan dengan persamaan NB = (NM-R)/SB.
Nilai Baku menunjukkan seberapa jauh nilai peserta dibandingkan peserta lainnya. NB ini selanjutnya di-transformasikan menjadi Nilai Nasional (NN) yang mempunyai rataan 500 dan simpangan baku 100 dengan rumus NN = 500 + ( 100 x NB). Berdasarkan nilai inilah peserta akan diurutkan mulai dari yang tertinggi hingga yang terendah.
Selanjutnya dilakukan Proses Alokasi yaitu penempatan peserta ke program studi, dengan ketentuan : peserta dengan nilai lebih baik mendapat prioritas untuk dialokasikan terlebih dahulu. Program studi hanya menerima sejumlah mahasiswa baru sesuai dengan daya tampungnya. Walaupun masih banyak calon dengan nilai sangat baik, kalau daya tampung sudah penuh maka alokasi akan ditutup. Kasus ini sering terjadi pada program studi yang tergolong sangat favorit dengan peminat yang sangat banyak.
Sebaliknya, proses alokasi akan terus dilakukan walaupun nilai dari peserta sudah sangat rendah. Kasus ini terjadi pada program studi yang kurang atau tidak favorit sehingga kurang diminati oleh peserta bahkan ada program yang daya tampungnya lebih besar dari jumlah peminat. TIDAK ADA nilai batas (Passing Grade) untuk menentukan diterima atau tidaknya peserta. Yang lebih menentukan adalah Daya Tampung dan Jumlah Peminat program studi yang bersangkutan.
Meskipun pada prinsipnya tidak ada nilai batas lulus ( passing grade), namun untuk mencegah ada peserta yang berspekulasi dengan hanya menjawab mata ujian yang dikuasainya dan mengabaikan mata ujian yang lain, maka ditetapkan suatu ketentuan yaitu bila ada peserta yang memiliki nilai mentah 2,5 atau kurang untuk 2 mata ujian atau lebih maka yang bersangkutan tidak akan diikutsertakan dalam proses alokasi. Peserta ini otomatis tidak akan lulus dan nilai ini disebut NILAI MATI.
Tidak banyak pihak yang mengetahui adanya ketentuan ini termasuk para pengelola Bimbingan Belajar (kecuali BKB Nurul Fikri). Namun informasi ini diperoleh langsung dari Prof. Dr. Toemin A. Masoem yang sejak tahun 1981 menjadi Ketua Tim Pengolah Data dan Pelaporan UMPTN Rayon A, B dan C melalui buku yang ditulisnya : “UMPTN atau Ebtanas, Mana yang lebih dapat diandalkan ?” (UI Press 1997) halaman 23, sehingga kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan.
Pengetahuan akan Nilai Mati ini setidaknya bisa mengungkapkan misteri kenapa banyak siswa yang tergolong pintar tidak lulus, sementara yang biasa-biasa saja dapat lulus SNMPTN. Siswa pintar biasanya cenderung berkonsentrasi pada mata ujian tertentu saja seperti Matematika, Fisika dan Kimia, dan biasanya mereka tidak terlalu memberi perhatian pada mata pelajaran yang bersifat hafalan seperti Biologi dan Bahasa Indonesia.
Dari hasil alokasi dibuat laporan awal yang selanjutnya akan dibawa dalam rapat rektor untuk diperikasa dan dikoreksi sesuai dengan kriteria dari masing-masing PTN.

Jumat, 30 Desember 2011

“Let my lens becomes your eyes…”


Lihat…

Bidik…

Eksekusi…

danangphotography_

Jumat, 23 Desember 2011

Karena Tuhan Yesus

 ...berdasarkan kisah nyata yang aku alami sendiri...


Gambar koyo ngene iki tok kok iso menang?” (Gambar kayak gini doang kok bisa menang?)

Itulah kalimat pertama yang muncul pas aku nyodorin posterku yang berhasil jadi juara di Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) pada teman bapak yang adalah pelukis. Ya, sebetulnya sih nggak hanya beliau aja yang ngomong kayak gitu, tapi temen-temenku (mereka yang gokil dan jujur dalam berpendapat. hehe) juga ngomong kayak gitu. Bayangin aja, cuma gambar tikus makan apel bergambar peta Indonesia doang, kok bisa ya jadi juara? Yah, siapa lagi kalau bukan karena Tuhan Yesus? J

Gambar tikus-apel itu sudah ada dalam kepalaku kira-kira tiga bulan sebelum lomba nasional dimulai. Persisnya, ketika guru seni rupaku, Pak Hadiyanto menyodorkan kata “korupsi” sebagai tema dalam lomba, langsung aja pikiranku terisi penuh dengan tikus, tikus, dan tikus! Ya, yang jelas aku seneng banget bisa jadi wakil SMAN 1 Salatiga ikut lomba seni. Jelas aja, waktu itu, temen-temenku udah pada ikutan olimpiade fisika, matematika dan sejenisnya, sedangkan aku lagi (selalu) sepi job. Maklum, kala itu nilai pelajaranku pas-pasan dan  ngandalin banget piagamku lomba gambar biar bisa masuk SMAku itu. Hehe.

Pas aku tanya ke Pak Hadi soal level lomba poster yang bakalan aku ikutin, beliau jawabnya aku bakal LANGSUNG mewakili kota Salatiga (tanpa seleksi!) di lomba poster tingkat Jeteng barengan dengan cabang lomba seni lain. Dia juga ngomong kalo aku menang di tingkat provinsi, aku bakalan langsung ke nasional, coy! Waktu itu aku cuma bisa bilang makasih bangat sama Tuhan karena udah di beri peluang dengan bonus kemudahan gak perlu seleksi tingkat kota. Aku masih inget targetku waktu itu cuma sebates pengen dapet piagam provinsi (maklum sebelumnya perjuangan selalu kandas di tingkat kota). Dan untuk maju ke tingkat nasional, menurutku itu jelas mimpi di siang bolong!

Dalam bikin konsep gambar, aku dibantu Pak Hadi dan Pak Pramono R. Pramoejo, seorang kartunis senior Indonesia yang udah aku anggep guruku sendiri. Singkat cerita, akhirnya dipilih konsep gambar tikus raksasa makan apel bergambar peta Indonesia dengan format kertas landscape (mendatar), sebuah format kertas yang jarang dipakai dan bahkan dihindari oleh para pembuat poster pada umumnya. Aku inget, alesanku menggunakan format ini adalah karena itu unik dan aku pengen tampil berbeda dari karya-karya yang lain (dasar anak muda=..=).

Satu hal yang ingin aku tonjolin dalam posterku itu adalah kesederhanaan. Sama Pak Pramono, aku diajarin bahwa inti dari sebuah poster itu adalah tentang gimana sebuah poster bisa ditangkep pesennya secara tajem, jelas, dan cepet. Kalok kayak gitu intinya, syarat kesederhanaan dalam sebuah poster adalah hal penting biar hal-hal tadi bisa tercapai. Nah, itulah dasar mengapa aku cuma gambar tikus dan apelnya doang.

Tikus raksasa menggambarkan korupsi yang masih menggerogoti negeri ini. Lalu apel bergambar peta Indonesia menggambarkan negeri ini yang sedang digerogoti korupsi. Aku sengaja gambar ukuran tikus jauh lebih besar dari ukuran apel untuk menggambarkan gedenya kasus korupsi yang melanda negeri ini, yang kalok terus dibiarin bakal bikin negeri ini habis tak tersisa (bahasanya keren banget!).

“Selamatkan Indonesia dari Korupsi!!!” akhirnya jadi kata pilihanku semata-mata untuk mempertajam makna yang terkandung dalam posterku. Untuk ngasih kesan “tegas” aku pakai salah satu jenis huruf yang ada di lepy reotku yaitu Stencil, semacem gaya tulisan yang dalam film yang pernah kutonton, sering digunakan dalam dunia militer untuk ngasih keterangan di kotak persenjataan dan peringatan batas wilayah. Warna tikus yang hitam, kontras dengan warna merah menyala sebagai background utamanya dibuat untuk mendukung kesan garang dan tegas dari poster ini. Jadi secara tegas aku pengen ngasih pesen bagi penikmat poster ini buat segera dan saat ini juga memerangi korupsi yang bila terus-terusan ditunda atau bahkan dibiarkan penanggulangannya bakal (pasti) bikin negeri ini ludes tak tersisa!!! Hahaha!!! (tawa jahat)

Bermodal konsep kayak gini dan kuas plus cat pinjeman dari Pak Pramono, akhirnya dengan mantap aku ikut seleksi lomba poster tingkat Jawa Tengah di LPMP Semarang. Di lomba yang berlangsung selama 5 jam itu, banyak yang membuat aku beda dari peserta lain. Aku adalah satu-satunya peserta dengan peralatan paling minim (udah minim, pinjem lagi =..=), aku adalah satu-satunya peserta yang milih landscape jadi format kertas, dan aku juga adalah satu-satunya peserta yang nggak istirahat untuk makan dan minum saat menggambar dalam kertas berukuran kira-kira 60 X 50 cm untuk waktu 5 jam!

Kebetulan waktu itu (waktu lomba) pas hari Jumat dan lombanya kepotong sama jam buat sholat Jumat. Peserta yang mau jumatan diperbolehkan meninggalkan lomba posternya sementara yang nggak sholat boleh makan-minum ato apa kek. Berhubung aku Kristen, aku kan nggak ikut jumatan, tapi aku juga nggak ikutan makan-minum, lanjuut aja ngerjain posternya (biar nanti bisa dapet perpanjangan waktu kayak peserta lain.hehe). Emang dasar lemot, udah dapet perpanjangan waktu, ee masih aja aku jadi peserta terakhir yang selesai. Tapi untung Tuhan sempat memuaskan “dahaga”ku. Ternyata yang jadi peserta terakhir itu ada 2 orang. Aku sama seorang peserta cewek yang cakep banget. Emang dasar nasib, kondisi waktu itu bener-bener sepi, dan panitianya sebelum pergi cuma bilang “nanti posternya taroh kantor ya”. Kebetulan kami bisa nyelesaiin poster bareng (aku yang nyama-nyamain waktunya biar bareng.hehe), terus kami kenalan lalu bersihin kuas bareng di keran deket taman (mengambil kesempatan dalam kesempitan).

Balik lagi ke topik utama, awalnya aku sempet pesimis bisa menang di lomba seleksi ini. Kepesimisanku bertambah waktu aku sadar gak ada ada orang yang tertarik lihat posterku, karena mereka lebih memilih untuk melihat poster karya peserta lain yang (jujur) menurutku lebih bagus, rapi, dan rumit. Tapi lomba adalah lomba, dan hanya juri (dan Tuhan tentunya) bukan penonton yang menentukan hasilnya. Aku mencoba untuk berpegang teguh pada konsep kesederhanaanku.

Pas lagi galau-galaunya bakalan menang apa enggak, temenku peserta lain (kalo gak salah dari Ungaran), tiba-tiba nyamperin. Aku kaget setengah gak percaya waktu dia bilang dia ngintip proses penjurian dan melihat poster buatanku ada di posisi pertama! Merasa gak begitu percaya, waktu pengumuman lomba, aku cuma pakai kaos, celana pendek plus sandal jepit. Ee.., ternyata Puji Tuhan, usaha dan kepesimisanku selama ini akhirnya terbayar setelah aku akhirnya berhasil memenangkan seleksi FLS2N tingkat Jawa Tengah itu! Bayangin aja seorang remaja berkaus dan celana pendek plus sandalan maju ke podium utama di gedung LPMP yang menurutku udah kaya gedung DPR itu. Aneh bin malu-maluin, kan? Biarin, yang penting menang. Hehe. Waktu inget kalo aku masih bakalan mewakili Jawa Tengah dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional di Surabaya, aku cuma bisa tutup mata dan mengucap syukur pada Tuhan Yesus! :D

Untuk mempersiapkan diri, aku terus dilatih teknik menggambar oleh Pak Furqon Amin (juga guru seni rupa di SMAku) di sekolah. Penempaan diri tidak hanya kandas di sekolah, tapi juga di luar sekolah. Aku tambah sering dateng ke rumah Pak Pramono untuk meminta saran atas poster yang sudah dan akan aku buat. Akhirnya, aku memilih untuk menggunakan konsep tikus (lagi) untuk aku gunakan dalam lomba tingkat nasional. Tapi kali ini bukan tikus makan apel tapi tikus besar yang lagi diketapel oleh penegak hukum yang digambarkan sangat kecil. Konsep ini mengandung arti bahwa kinerja penegak hukum masih kurang garang daripada kasus korupsi yang ditanganinya. Selain konsep gambar, hal lain yang aku rombak adalah amunisi, aku memutuskan untuk beli kuas dan cat yang harganya agak ehem.., dengan menggunakan uang yang diberikan oleh sekolah, hehe. Aku berharap dengan persenjataan ini, aku bisa menghasilkan gambar yang lebih baik dari sebelumnya (ya minim bisa punya kuas berkualitas kalo gak menang lomba tingkat nasional laahh, hehe).

Empat hari sebelum berangkat ke Surabaya, aku sama temen-temen dari cabang lomba seni lain, di karantina di LPMP Semarang. Di sana kami mendapat semacam pengarahan dan bimbingan motivasi agar kami yakin dengan diri kami sendri bahwa kami bisa memberikan yang terbaik.  Di sana, kami juga berlatih menekuni dan mempersiapkan cabang lomba masing-masing. Ada yang sama guru pendamping, ada juga yang belajar sendirian (kayak aku). Tapi anehnya, semakin aku berlatih, bukan rasa puas yang muncul, melainkan keraguan atas konsep baru tikusku. Aku mikir kalok konsep lama tikusku jauh lebih “mengena”. Setelah mengalami keraguan yang cukup lama, akhirnya dengan berani aku memutuskan untuk kembali pada konsep pertamaku yaitu tikus makan apel.

Di Surabaya, kami bertemu dengan seluruh perwakilan dari 33 privinsi di Indonesia. Aku ngerasa ada suatu kebanggaan tersendiri bisa ketemu dan bahkan berlomba dengan mereka yang terbaik dari setiap daerahnya. Perna juga aku iseng tanya sama Tuhan: Tuhan, mengapa Engkau membawaku hingga ke tempat ini? Mengapa engkau membawaku hingga saat ini? Apa ada tujuan di balik semuanya ini, Tuhan?

Acara di hari pertama adalah upacara pembukaan FLS2N oleh gubernur Jawa Timur, Pak Soekarwo. Acara pembukaan berlangsung sangat megah dan meriah. Penampilan yang disajikan pun sungguh memukau. Jajaran artis hingga kaum difabel bergantian menampilkan talentanya di atas panggung indoor yang megah. Kemudian, setelah bersenang-senang di hari pertama, acara kedua adalah technical meeting oleh juri dari setiap cabang lomba. Pada saat pengarahan, sungguh di luar dugaan, juri dengan tegas mengatakan akan menolak poster yang akan digambar di kertas berformat landscape! 

Mungkin bagi peserta lain ini bukan masalah karena mereka sudah berlatih dengan format portrait, tapi bagiku yang berlatih dengan format landscape? Ini bencana! Aku ragu apakah aku bisa segera mengubah posterku dalam waktu satu malam mengingat waktu itu jam udah menunjukkan pukul 8 malam dan lomba akan dilaksanakan esok paginya! Saat itu juga aku tanya sama Tuhan: “Tuhan, mengapa harus seperti ini? Mengapa masih ada jurang menganga ketika perlombaan ada di depan mata? Apa maksud-Mu dengan ini?” Di dalam kekhawatiran, tiba-tiba aku kembali inget sama Tuhan Yesus yang udah bawa aku ke tempat ini. Aku inget Dia pernah bilang: “Janganlah kuatir akan hidupmu…”. Lalu, entah mengapa (nggak kaya biasanya) aku jadi nggak khawatir lagi, dan percaya bahwa “jalan” itu ada dan disediakan buat aku.

Tanpa pikir panjang, dengan segera aku menemui Pak Furqon untuk mendiskusikan masalah ini. Beliau mencoba menenangkan saya, dan kemudian saya di latih beliau di Masjid terdekat. Bayangin aja ada orang malem-malem bawa alat-alat gambar lengkap ke masjid. Aneh banget! Hahaha! Setelah tiga jam meminta pengarahan kilat, akhirnya aku berhasil menemukan konsep baru posterku, gambar tikus dan apelnya dalam format landscape. Masalahnya satu hal, karena konsep kertasnya berubah, aku jadi masih agak kaku gambarnya. Waktu di latih Pak Furqon, widih.., banyak banget itu yang namanya serpihan penghapus. Hapus sana, hapus sini. Baru tarik garis aja udah salah. Hapus lagi… Pak Furqon memintaku untuk beristirahat mempersiapkan kondisi fisik dan mental mengingat jam udah nunjukin pukul 23.00. Pas aku tanya kok Pak Furqon gak ikutan balik, beliau jawab kalo beliau mau sholat 1 malam (tahajud ato apa ya namanya?) biar aku pas lomba di beri kekuatan!

Bayangin aja gimana perasaan kalian ketika guru kalian sendiri langsung turun tangan secara total mendukung kita dari persiapan lahiriah sampai batiniah kayak gitu. Bakal salut banget kan? Aku jadi ngerasa nggak enak sama Pak Furqon yang selama ini aku nganggep dia sebagai guru yang (sori) agak freak, ternyata sebenernya punya sifat bersahaja. Setelah kembali ke kamar, hal pertama yang aku lakuin bukan tidur tapi latihan. Waktu itu, kami yang laki-laki disendiriin jadi satu kamar, dan yang cewek juga. Aku inget yang lain udah pada tidur semua sementara aku baru pulang dari latihan, dan masih akan nglanjutin latihan. Aku ulangin lagi gambar-gambar hasil ajaran Pak Furqon tadi. Tapi rasanya tetap sama, sulitnya minta ampun! Dikit-dikit salah. Dikit-dikit salah. Di dalam pergumulanku yang seperti itu, tiba-tiba ada sms masuk. Ternyata dari bapak. Bunyi smsnya kurang lebih kayak gini:

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuannya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”-Kolose 3:17-
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”-Kolose 3:23-

SMS itu seakan jadi kekuatan baru buat aku. Jadi semangat, optimis tapi tetap berserah sama Tuhan. Kekhawatiran akan konsep gambarku seakan lenyap, dan yang ada hanyalah satu kata, PERCAYA. Yah.. dini hari, 16 Juni 2010 , ketika aku akhirnya bisa tidur nyenyak di Surabaya.

Esok harinya ketika lomba, aku heran mengapa dengan sekali gores aku bisa menciptakan konsep gambar yang baru berumur sembilan jam itu. Padahal waktu latihan terakhir, masih banyak goresan salah yang aku buat dan banyak penghapusan kesalahan di sana-sini. Waktu 5 jam yang di sediakan panitia terasa berjalan seperti hanya 15 menit. Begitu cepatnya sehingga sampe aku nggak sadar kalok aku kembali jadi peserta terakhir yang menyelesaikan lomba ini (dasar lemot)! Yah berhubung aku satu-satunya yang masih tersisa di menit-menit terakhir lomba, aku jadi bahan tontonan orang banyak. Mulai dari peserta dari daerah lain, orang yang cuma lewat, sampai penjual siomay pun meninggalkan grobak siomaynya. Ada juga fotografer yang selalu membidikkan lensa putihnya yang gede ke arahku. Bikin tambah grogi coy! Hahaha! Tapi ada satu yang gak pernah melihat dan bahkan melirik ke posterku, dia adalah dewan juri. Padahal juri keliatan asyik keliling-keliling ngelihat karya poster dari daerah lain sedangkan aku beberapa kali cuma dilewati begitu aja. Waduh! Apa ada sesuatu yang salah?
Kegiatan di hari keempat bagi lomba poster adalah acara evaluasi karya oleh juri. Pada acara yang digelar di salah satu SMA di Surabaya itu, juri menyodorkan beberapa poster hasil karya para peserta hari sebelumnya dan memberikan beberapa masukan dan kritik yang membangun. Dan ketika sampai pada saat juri mengangkat poster karyaku, anehnya juri nggak mengatakan kritik apapun terhadap karyaku itu! Suasana ruangan yang berisi 33 peserta dan 3 dewan juri tiba-tiba menjadi hening. Pikiranku menjadi kacau dan memikirkan seolah-olah karyaku tadi udah terlalu “ancur” untuk sebuah karya seni yang dinamakan poster. Keraguanku semakin kuat mengingat (sekali lagi) posterku adalah yang paling simpel dibanding 32 poster dari provinsi lain. Apakah juri akan memilih “simpel” yang cuma satu ini dibandingkan 32 karya hebat lain? Apa mungkin “simpel” yang menjadi kukuatanku selama ini tak berlaku di lomba tingkat nasional?
Esok harinya adalah saat-saat paling mendebarkan dalam hidup. Dua kata yang kalau jujur dan tanpa gengsi berarti segalannya, menang dan kalah. Namun sekali lagi, Tuhan bukan pembantu yang bisa dengan mudahnya disuruh-suruh untuk nurutin kehendak kita. Yang kita lakukan “hanya” berserah kepadaNya. Persis ketika aku nunggu pengumuman hasil lomba poster tingkat nasional. Awalnya aku merasa kecil di antara “yang terbaik” dari masing-masing daerah. Siapa aku di sini? Itu pertanyaan yang selalu terngiang di otakku. Target tertinggiku yang mungkin bisa aku raih adalah juara 3 lomba poster tingkat nasional. Sebuah lelucon konyol yang jelas hanya bikin ketawa. 
Namun sekarang, aku merasa benar-benar ini adalah “waktuku”. Ini adalah waktuku untuk menunjukkan bahwa aku punya Tuhan yang luar biasa hebat bernama Yesus. Bukan juara 2 atau 3, tapi juara 1. Pikiranku kembali membayangkan seakan seluruh teman-teman sekolahku, orang tuaku, teman gerejaku, tetangga-tetanggaku, dan seluruh dunia sekarang sedang berteriak menyemangatiku. Tak ingin aku mengecewakan mereka. Oke, jujur, aku pun mencurahkan seluruh isi hati waktu itu dengan bernyanyi pelan di antara kegilaan mereka yang sedang menantikan medali emas.
Terkadang kita merasa
Tak ada jalan terbuka
Tak ada lagi waktu
Terlambat sudah
Juara 3 Lomba Poster tingkat Nasional dipanggil, itu bukan aku! Dalam hati aku berterimakasih pada Tuhan karena aku yakin Dia akan memberikan yang lebih baik dari juara 3! Dengan yakin kulanjutkan nyanyiku.
Tuhan tak pernah berdusta
Dia slalu pegang janjiNya
Bagi orang percaya
Mukjizat nyata
Juara ke-2 dipanggil, itu bukan aku! Kali ini aku yakin sama Tuhan, Dia punya rencana di depan sana! Temen-temenku sekontingen pada numpangin tangan di kepala dan pundakku dan itu membuatku merasa nggak sendirian. Aku nglanjutin nyanyi dengan suaraku yang semakin berat nahan air mata sementara gegap gempita orang-orang terdengar semakin keras.
Dia mengerti
Dia perduli
Persoalan yang sedang terjadi
Dia mengerti
Dia perduli
Persoalan yang kita alami
Tumpangan tangan temen-temenku terasa semakin menekan sementara aku masih tertunduk dan menyanyi. Detik itu juga 100% aku percaya aku bakalan menang jadi juara 1!

Namun satu yang Dia minta
Agar kita percaya sampai mukjizat
Menjadi …
 “Dan juara 1 Lomba Poster Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional 2010 adalah…
Nyata…
DANANG ADI WIRATAMA dari SMA N 1 Salatiga, Jawa Tengah!!!
Temen-temenku sekontingen udah kayak jadi “gila” waktu namaku dipanggil. Mereka mulai merangkul, memukul, dan mengacak-acak rambut ikalku. Sungguh kontras dengan sikapku yang hanya dari tadi tertunduk. Air mataku yang sepertinya nggak terbendung, dengan sekuat tenaga aku tahan. Maklum, belum pernah seumur hidup nangis waktu lomba,coy! Mencoba melangkah maju ke atas podium utama dengan kaki gemetar dan mata merah, akhirnya mimpiku dari kecil untuk mendapat medali emas kini tercapai, karena Tuhan Yesus…
Salatiga, 24 Desember 2011

Senin, 12 Desember 2011

Lomba Poster, dengan Hadiah Superrr!

SMA N 1 Salatiga kembali ngadain Program Pendidikan Karakter yang dilaksanakan dalam 1 minggu (tanggal 12 sampai 17 Desember 2011)—promosi sekolahku,hehe. Pendidikan karakter adalah semacam pelatihan bagi siswa biar nggak hanya punya otak encer tapi juga moral tok cer (baik akhlaknya maksudnya). Seenggaknya ada 9 pilar pendidikan karakter yang musti kita perhatiin.  Pilar tersebut adalah cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian, kejujuran, amanah dan diplomatis, hormat dan santun, kasih sayang, kepedulian, dan kerja sama. Lalu, percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai dan persatuan. Kemudian, ada pula K4 (kesehatan, kebersihan, kerapian dan keamanan).
Balik lagi ke topik awal, acara-acara dalam seminggu pendidikan karakter di SMAN 1 itu meliputi, workshop penelitian karya siswa, lomba karya tulis, lomba poster, dan bahkan kampanye pendidikan karakter di markas militer 411. Di sini, berhubung saya kebagian jadi panitia lomba poster, saya akan menjelaskan ketentuan teknis lombanya, hehe.
WAKTU   : 15 Desember 2011, jamnya kira-kira jam 09.00 (on time, amin!)
TEMPAT : SMAN 1 Salatiga (rungan kelas—informasi nyusul,hehe)
PESERTA : Siswa SMAN 1 Salatiga kelas X dan XI
TEMA---tentang pendidikan karakter( Pilih salah satu ) :
1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah  kepribadian bangsa Indonesia. 
2. Mari kita bentuk pribadi kita yang beriman,  cerdas, berwawasan luas,  terampil, disiplin, dan berbudi mulia. 
3. Para pahlawan telah membebaskan bangsa dari  penjajahan, kita dituntut untuk membebaskan bangsa dari kebodohan dan  ketergantungan. 
4. Pelajar hari ini menentukan corak bangsa hari  esok. 
5. Pengurasan alam sekarang akan menyengsarakan  generasi yang akan datang. 
6. Semakin besar potensi seseorang dengan moral  rendah semakin besar menimbulkan kerusakan lingkungan. 
7. Moral pelajar sekarang akan membentuk moral  bangsa dan negara yang akan datang. 
8. Kerusakan fisik bisa dilihat, kerusakan moral  susah dideteksi dan susah diperbaiki.
9. Budipekerti tertinggi adalah budipekerti kepada  Tuhan Yang Maha Esa.

KETENTUAN
1. Kertas ukuran A3 disediakan panitia. 
2. Perlengkapan menggambar bebas. 
3. Teknik yang digunakan bebas (kecuali tempel menempel) dan harus diwarnai.  
4. Lama pengerjaan 3 jam. 
5. Seluruh karya akan dipamerkan Sabtu, 17 Desember 2011.    

TOTAL HADIAH : Rp 450000,00  !!! (Pengumuman tanggal 16 Desember 2011)

Buat catetan, siswa kelas X dan XI yang memilih program senirupa WAJIB mengikuti lomba ini. Bagi siswa yang tidak mengikuti program senirupa tapi berminat mengikuti lomba, diperbolehkani.                         


Untuk lomba ini, penilaian diputuskan oleh dewan juri dan tidak bisa diganggu gugat, dan karya terseleksi menjadi dokumen sekolah. Oh ya satu lagi, semua hasil karya kalian yang ikut lomba poster akan dipamerkan pada tanggal 17 Desember 2011, di sepanjang koridor SMAN 1 Salatiga. Entah kebetulan atau apa, pameran dilaksanakan berbarangan dengan pengambilan rapot semester 1 oleh orang tua kalian, jadi bagi yang ikut lomba, gambar posternya yang bagus ya (kan dilihat orang tua kalian?hehe). Siapa tahu kalo misal (semoga enggak) rapot kalian jelek, dan kalian menang lomba ini, orang tua kalian bakalan nggak jadi marahin kalian, dan kalian pun bisa menutup tahun 2011 ini dengan senyuman…(wediiaann)

Minggu, 11 Desember 2011

Yes! (akhirnya) Kartunku Masuk Koran!


Hobi gambar dari kecil,.. ee.., nggak taunya keterusan sampe sekarang. Pernah beberapa kali ngirim karya ke koran, dan puji Tuhan! Diterima!(walau banyak juga yang nggak diterima) Ini dia yang diterima di koran (terutama di Sinar Harapan, koran sore di Jakarta). Mohon kritiknya ya!

janji boleh manis, prakteknya juga harus manis dong!


krisis ekonomi global cengkram dunia!
bulan desember langka LPG? mintak ke sinterklas aja!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More